Ketika kecil kita belajar bahwa air hujan berasal dari air laut yang menguap, berkumpul menjadi awan hujan, lalu airnya turun ke bumi sebagai hujan. Benarkah hanya uap air dari bumi saja yang menjadikan hujan?
1988, Dr. Louis Frank, ahli fisika dari Lowa, USA, meneliti
data dari satelit Eksploler I. Atmosfer telah berlubang dihantam oleh bola es yg sangat besar
menembus dari luar angkasa. Berat tiap komet diperkirakan 100 ton dan kulitnya
berlapis hidro-carbon hitam. Garis tengahnya kira-kira 10 meter. Menghujani
bumi dalam jumlah besar, yaitu sekitar 10 juta buah dalam setahun, atau 19 buah
per menit!
Dr. Clayne Yeates, ahli fisika dari Pasadena, California,
menerangkan bahwa bola-bola es itu meluncur dengan kecepatan sekitar 10
km/detik dari ketinggian 150.000 km, dan mulai pecah menjadi butiran es akibat
gelombang udara sangat hangat pada ketinggian 1000 km di atas permukaan bumi.
Butiran es tersebut selanjutnya menguap menjadi embun dan turun ke bumi sebagai
air hujan, tetapi proses tersebut dibeberapa tempat kadang tidak sempurna sehingga bisa menyebabkan fenomena hujan batu es.
Dr. Louis Frank menghitung bahwa jumlah air ”kiriman” dari
luar angkasa itu telah menambah tinggi air laut di permukaan bumi sebanyak 2,5
cm per 10.000 tahun. Proses hujan dari luar angkasa ini telah berlangsung sejak
bumi terbentuk atau sekitar 4,9 miliar tahun yang lalu sehingga telah
menyumbangkan debit air dalam jumlah yang sangat banyak untuk mencukupi
kebutuhan hidup mahluk di bumi.
Dan 1400 tahun lalu tentang komet es dari luar angkasa yang menghujani bumi ini telah disampaikan dalam Al Quran Surat An-Nur (Cahaya) 24 : 43
“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan
antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka
kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga)
menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan
awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu
kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang
dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan
penglihatan.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar